RAJAWALI PANTAI SELATAN
Masaginews.
Topografi alam Sukabumi dan wilayah sekitarnya yang banyak dijumpai pegunungan dan perbukitan menjadi kendala dalam berkomunikasi. Jaringan telepon selular pun sering mengalami gangguan bahkan di beberapa wilayah sama sekali tidak dapat mengaksesnya (blank spot).
Disaat terjadi bencana alam didaerah yang tidak ada jaringan, menjadi kendala juga bagi aparat terkait yang akan menangani.
“Kehadiran stasiun pancar ulang (relay) Paguyuban Radio Pantai Selatan (PRPS) Rajawali berupaya menjawab tantangan itu,” kata Acep “Robert Canerron” (71) salah seorang penggagas dan Sesepuh PRPS Rajawali kepada Masaginews.com, Minggu (07/01).
Menurut budayawan Palabuhanratu itu, adanya stasiun pancar ulang Rajawali yang berlokasi di Puncak Bukit Cigaru, Kecamatan Simpenan di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut (dpl) menguntungkan setiap anggotanya hanya membawa radio handy talky (HT) dapat berkomunikasi dengan mudah terutama di daerah yang tidak terjamah signal telepon genggam (handphone).
“Dalam lima tahun terakhir ini, anggota PRPS Rajawali yang tersebar di Banten, Sukabumi dan Bogor senantiasa menggunakan relay itu untuk memudahkan komunikasi di laut dan di gunung, termasuk perangkat pemda, aparat keamanan dan semua potensi SAR dimana saja, silahkan memanfaatkannya untuk kebutuhan operasi SAR dan pendistribusian logistik lainnya,” ujar pria berusia lanjut yang selalu aktif dalam setiap operasi SAR.
Begitu juga bagi Bandi (51) anggota Rajawali warga kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten, kehadiran relay Rajawali sangat bermanfaat untuk kelancaran komunikasi di daerahnya.
“Sudah beberapa tahun ini kita gunakan relay Rajawali untuk memudahkan komunikasi radio saat proses evakuasi korban bencana alam,” ucap koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak itu.
Melalui relay itu, dia juga dapat memanggil jajarannya dan menghimpun informasi dalam setiap kegiatan di Kabupaten Lebak.




